Harmoni dalam Perbedaan: Menyatukan Keberagaman Agama di Lingkungan Kampus
Harmoni dalam
Perbedaan: Menyatukan Keberagaman Agama di Lingkungan Kampus
Indonesia dikenal sebagai negara dengan penduduk
yang memeluk berbagai agama. Pancasila sebagai dasar negara menjamin kebebasan
beragama bagi setiap warganya. Hal ini tercermin dalam kehidupan kampus, di
mana mahasiswa dari berbagai agama seperti Islam, Kristen, Katolik, Hindu,
Buddha, dan Konghucu belajar dan berinteraksi bersama. Keberagaman ini bukanlah
sesuatu yang harus ditakuti atau dijauhi, melainkan disyukuri. Sebab, dari
perbedaan itulah muncul potensi untuk saling belajar, memperkaya perspektif,
dan membentuk pribadi yang lebih toleran
Meski keberagaman membawa banyak manfaat,
realitas di lapangan tidak selalu mulus, terkadang, masih ditemukan prasangka,
stereotip, atau bahkan diskriminasi berdasarkan agama Misalnya, pengkotak-kotakan dalam kelompok
kegiatan, penolakan terhadap pendapat yang berbeda karena alasan keagamaan,
atau minimnya interaksi antarumat beragama. Tantangan lainnya adalah kurangnya
ruang dialog yang sehat untuk membahas isu-isu sensitif, serta masih adanya
pemahaman sempit tentang ajaran agama masing-masing yang bisa mengarah pada
sikap eksklusif. Menyatukan keberagaman agama di lingkungan kampus membutuhkan
kerja sama antara mahasiswa, organisasi kemahasiswaan, dan pihak kampus. Salah satu
langkah yang bisa dilakukan antara lain mengadakan dialog lintas iman sebagai
ruang berbagi pandangan dan membangun pemahaman antaragama.

Dialog lintas agama penting
karena memungkinkan mahasiswa untuk saling memahami, menghilangkan prasangka,
dan membangun solidaritas atas dasar kemanusiaan (Arifin et al., 2023). Ini
bukan hanya soal berbicara tentang keyakinan, tetapi juga menciptakan ruang
saling menghormati, membuka wawasan tentang keberagaman, dan memperkuat rasa
toleransi. Contohnya, di Himpunan Mahasiswa Pendidikan Fisika UNESA, dialog
lintas agama diwujudkan melalui acara Spiritual Talkshow sebagai bagian dari
program kerja Spiritual Building Center (SBC) 2024. Pada 27 Oktober
2024, mahasiswa dari prodi Fisika dan Pendidikan Fisika, bahkan dari berbagai
program studi lain di FMIPA, berkumpul di Auditorium D1 FMIPA UNESA untuk
memperdalam pemahaman spiritual dan toleransi. Acara ini mengambil tema “Harmoni
dalam Keberagaman: Membangun Spiritualitas Generasi Z dalam Tantangan
Kontemporer”. Dalam format talkshow, narasumber dengan latar belakang berbeda
berbagi pengalaman dan gagasan tentang pentingnya menjaga keseimbangan antara
kecerdasan intelektual dan kedewasaan spiritual.
Harmoni tidak berarti menyamakan
semua keyakinan, tetapi kemampuan untuk hidup berdampingan dengan damai
meskipun berbeda. Ketika mahasiswa mampu melihat sesama bukan dari perbedaan
agamanya, melainkan dari kemanusiaannya, maka kampus akan menjadi tempat yang
damai, inklusif, dan membentuk generasi yang siap hidup dalam masyarakat yang
plural.
Harmoni tidak berarti menyamakan
semua keyakinan, tetapi kemampuan untuk hidup berdampingan dengan damai
meskipun berbeda. Ketika mahasiswa mampu melihat sesama bukan dari perbedaan
agamanya, melainkan dari kemanusiaannya, maka kampus akan menjadi tempat yang
damai, inklusif, dan membentuk generasi yang siap hidup dalam masyarakat yang
plural.
Harmoni tidak berarti menyamakan
semua keyakinan, tetapi kemampuan untuk hidup berdampingan dengan damai
meskipun berbeda. Ketika mahasiswa mampu melihat sesama bukan dari perbedaan
agamanya, melainkan dari kemanusiaannya, maka kampus akan menjadi tempat yang
damai, inklusif, dan membentuk generasi yang siap hidup dalam masyarakat yang
plural.
Harmoni tidak berarti menyamakan
semua keyakinan, tetapi kemampuan untuk hidup berdampingan dengan damai
meskipun berbeda. Ketika mahasiswa mampu melihat sesama bukan dari perbedaan
agamanya, melainkan dari kemanusiaannya, maka kampus akan menjadi tempat yang
damai, inklusif, dan membentuk generasi yang siap hidup dalam masyarakat yang
plural.
Indonesia dikenal sebagai negara dengan penduduk yang memeluk berbagai agama. Pancasila sebagai dasar negara menjamin kebebasan beragama bagi setiap warganya. Hal ini tercermin dalam kehidupan kampus, di mana mahasiswa dari berbagai agama seperti Islam, Kristen, Katolik, Hindu, Buddha, dan Konghucu belajar dan berinteraksi bersama. Keberagaman ini bukanlah sesuatu yang harus ditakuti atau dijauhi, melainkan disyukuri. Sebab, dari perbedaan itulah muncul potensi untuk saling belajar, memperkaya perspektif, dan membentuk pribadi yang lebih toleran
Meski keberagaman membawa banyak manfaat,
realitas di lapangan tidak selalu mulus, terkadang, masih ditemukan prasangka,
stereotip, atau bahkan diskriminasi berdasarkan agama Misalnya, pengkotak-kotakan dalam kelompok
kegiatan, penolakan terhadap pendapat yang berbeda karena alasan keagamaan,
atau minimnya interaksi antarumat beragama. Tantangan lainnya adalah kurangnya
ruang dialog yang sehat untuk membahas isu-isu sensitif, serta masih adanya
pemahaman sempit tentang ajaran agama masing-masing yang bisa mengarah pada
sikap eksklusif. Menyatukan keberagaman agama di lingkungan kampus membutuhkan
kerja sama antara mahasiswa, organisasi kemahasiswaan, dan pihak kampus. Salah satu
langkah yang bisa dilakukan antara lain mengadakan dialog lintas iman sebagai
ruang berbagi pandangan dan membangun pemahaman antaragama.
Dialog lintas agama penting
karena memungkinkan mahasiswa untuk saling memahami, menghilangkan prasangka,
dan membangun solidaritas atas dasar kemanusiaan (Arifin et al., 2023). Ini
bukan hanya soal berbicara tentang keyakinan, tetapi juga menciptakan ruang
saling menghormati, membuka wawasan tentang keberagaman, dan memperkuat rasa
toleransi. Contohnya, di Himpunan Mahasiswa Pendidikan Fisika UNESA, dialog
lintas agama diwujudkan melalui acara Spiritual Talkshow sebagai bagian dari
program kerja Spiritual Building Center (SBC) 2024. Pada 27 Oktober
2024, mahasiswa dari prodi Fisika dan Pendidikan Fisika, bahkan dari berbagai
program studi lain di FMIPA, berkumpul di Auditorium D1 FMIPA UNESA untuk
memperdalam pemahaman spiritual dan toleransi. Acara ini mengambil tema “Harmoni
dalam Keberagaman: Membangun Spiritualitas Generasi Z dalam Tantangan
Kontemporer”. Dalam format talkshow, narasumber dengan latar belakang berbeda
berbagi pengalaman dan gagasan tentang pentingnya menjaga keseimbangan antara
kecerdasan intelektual dan kedewasaan spiritual.
Harmoni tidak berarti menyamakan
semua keyakinan, tetapi kemampuan untuk hidup berdampingan dengan damai
meskipun berbeda. Ketika mahasiswa mampu melihat sesama bukan dari perbedaan
agamanya, melainkan dari kemanusiaannya, maka kampus akan menjadi tempat yang
damai, inklusif, dan membentuk generasi yang siap hidup dalam masyarakat yang
plural.
Harmoni tidak berarti menyamakan
semua keyakinan, tetapi kemampuan untuk hidup berdampingan dengan damai
meskipun berbeda. Ketika mahasiswa mampu melihat sesama bukan dari perbedaan
agamanya, melainkan dari kemanusiaannya, maka kampus akan menjadi tempat yang
damai, inklusif, dan membentuk generasi yang siap hidup dalam masyarakat yang
plural.
Harmoni tidak berarti menyamakan
semua keyakinan, tetapi kemampuan untuk hidup berdampingan dengan damai
meskipun berbeda. Ketika mahasiswa mampu melihat sesama bukan dari perbedaan
agamanya, melainkan dari kemanusiaannya, maka kampus akan menjadi tempat yang
damai, inklusif, dan membentuk generasi yang siap hidup dalam masyarakat yang
plural.
Harmoni tidak berarti menyamakan
semua keyakinan, tetapi kemampuan untuk hidup berdampingan dengan damai
meskipun berbeda. Ketika mahasiswa mampu melihat sesama bukan dari perbedaan
agamanya, melainkan dari kemanusiaannya, maka kampus akan menjadi tempat yang
damai, inklusif, dan membentuk generasi yang siap hidup dalam masyarakat yang
plural. Harmoni tidak berarti menyamakan semua keyakinan, tetapi kemampuan untuk hidup berdampingan dengan damai meskipun berbeda. Ketika mahasiswa mampu melihat sesama bukan dari perbedaan agamanya, melainkan dari kemanusiaannya, maka kampus akan menjadi tempat yang damai, inklusif, dan membentuk generasi yang siap hidup dalam masyarakat yang plural.
Harmoni tidak berarti menyamakan semua keyakinan, tetapi kemampuan untuk hidup berdampingan dengan damai meskipun berbeda. Ketika mahasiswa mampu melihat sesama bukan dari perbedaan agamanya, melainkan dari kemanusiaannya, maka kampus akan menjadi tempat yang damai, inklusif, dan membentuk generasi yang siap hidup dalam masyarakat yang plural.